Jumat, 23 Januari 2009

Kasus IT

Kasus IT sangat erat kaitannya dengan seorang hacker. Para hacker, entah dalam bentuk perusakan kecil-kecilan atau dalam bentuk perampokan cyber berskala besar, memasuki dunia Web bersama dengan semua orang lainnya.Organisasi yang menerapkan aplikasi bisnis berbasis Web menghadapi resiko yang kian meningkat.
Serangan dari hacker dapat berakibat fatal bagi seseorang maupun sebuah institusi yang besar seperti, Bank dan
institusi keuangan tiba-tiba ambruk, Orang tidak bisa lagi menarik uangnya dari Bank. Perjalanan kereta api dan pesawat terbang semuanya kacau atau berhenti total. Lampu lalulintas di kota semua mati.
Perang Cyber, kini sudah memasuki dimensi baru. Cukup dengan hanya menyerang jaringan teknologi informatik yang ada, infrastruktur dan sistem yang mendukung berfungsinya kehidupan masyarakat di sebuah kota, dapat dilumpuhkan. Dewasa ini, diketahui ada sedikitnya 30 negara yang mempersiapkan diri untuk melakukan perang cyber. Selain Amerika Serikat, Rusia, Perancis dan Inggris juga negara yang terus bergolak seperti Israel, Iran, Pakistan serta India amat giat mempersiapkan diri dalam perang cyber ini. Perang Cyber merupakan perang yang amat abstrak. Siapa musuh, dimana dia berada dan dimana medan perangnya sangat sulit terlihat. Namun dampaknya akan dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Misalnya saja, runtuhnya bursa atau kacaunya transaksi bank, dapat melumpuhkan kehidupan sebuah negara.
Para hacker yang tidak kelihatan, mampu menyerang sasaran, tanpa dia sendiri dapat dilacak lokasinya. Para hacker dapat seolah-olah menyerang dari luar negeri, padahal ia bercokol hanya beberapa ratus meter dari sasaran yang diserangnya. Atau serangan seolah-olah datang dari dalam negeri, padahal penyerangnya berada ribuan kilometer di luar negeri.
Fakta menunjukan, hanya serangan hacker iseng dan amatiran saja sulit dilacak. Apalagi serangan superhacker yang profesional. Sampai sekarang pencurian data semacam itu masih terus dilakukan

Tidak ada komentar: